Bike Sharing, Gowes Bergantian Sehatnya Barengan

Oleh: Ya Yat, Blogger Kompasiana  | artikel asli, klik di sini.

Beberapa laki-laki tua menggowes sepedanya memasuki area persawahan. Sepeda yang digowes, sama tua dengan pengendaranya. Botol air minum tergantung di setang masing-masing sepeda, lengkap dengan perlengkapan untuk bekerja seperti pacul dan arit. Tak ada saling bicara di antara mereka. Semuanya bergegas menuju sawah masing-masing untuk bekerja. Saya tak pernah absen jalan pagi di areal persawahan ini ketika mengunjungi ayah saya di sebuah desa di Bangunjiwo Bantul Jogjakarta. Kunjungan rutin ini sekaligus kesempatan untuk saya menghirup segarnya udara desa. Supaya paru-paru saya nggak berisi udara kotor terus, maklum ya di Jakarta udara kotor saya hirup setiap hari. Pastinya karena pengaruh udara, maka para orang tua di kampung ini sehat semua. Seperti laki-laki yang menggowes sepedanya tadi. Saya taksir umurnya 60 an tahun. Ia masih sanggup bekerja di sawah seharian. Memaculi lahan, menanam padi dari pagi hingga sore hari. Orang-orang muda yang biasa hidup di kota masa bisa seperti mereka, walau dari segi fisik, orang-orang muda ini terlihat jauh lebih kuat[/caption]

Udara bersih adalah kunci. Terbiasa menghirup udara bersih yang bebas dari polusi membuat orang-orang di desa jarang mengalami sakit. Udara bersih yang masuk ke tubuh meningkatkan sistem imun yang menghambat timbulnya penyakit. Lingkungan yang penuh dengan pepohonan juga menghindarkan orang dari stress. Sehat fisiknya, sehat pula jiwanya. Berbeda dengan orang yang hidup di Jakarta. Saya selalu membawa masker untuk menutup hidung dan mulut kalau pergi keluar rumah. Udara kotor mudah sekali terhirup. Udara yang kotor kalau masuk ke paru-paru menimbulkan banyak penyakit. TBC adalah salah satu penyakit yang umum ditemukan di kota besar semacam Jakarta. Makanya dana BPJS sebagian besar terserap untuk mengobati penyakit TBC. Membuat udara kota menjadi sebersih udara di desa pasti butuh proses dan kerja keras dan butuh dukungan dari semua pihak. Udara kota yang bersih bukan jadi angan-angan kalau semua orang sadar untuk kembali ke alam. Pemerintah telah memulai itu dengan menyediakan taman terbuka di beberapa area. Meski jumlahnya tak banyak tapi lumayan lah ya daripada nggak ada.

Maulidan Isbar, Co-Founder Kayuh

Beberapa pihak swasta berbentuk institusi dan perseorangan juga mempunyai banyak program yang peduli lingkungan. Perumahan dan apartemen dibangun dengan desain yang ramah lingkungan. Banyak ruang terbuka hijau buat jalan-jalan dan sepedaan di area perumahan yang dibangun. Di kota Bogor, ada seorang pemuda yang mempunyai misi peduli lingkungan dan menyatukan sepeda, kayu dan dunia digital. Dunia yang sangat deket sama anak muda yekan. Tapi sepedanya bukan buat dijual ya… melainkan dipake bergantian dengan sistem bike sharing. Berpadunya Sepeda Kayu dan Digital dalam Bike Sharing Ketika saya ke Kuala Lumpur, saya lihat di beberapa tempat, ada beberapa sepeda berwarna kuning terparkir. Saya pikir sepeda ini sengaja diparkir oleh pemiliknya, ternyata sepeda ini untuk disewa. Kita bisa menggunakan sepeda untuk berkeliling setelah register dan membayar melalui aplikasi. Nah konsep bike sharing seperti ini yang akan diberlakukan di Bogor. Bersepeda adalah salah satu cara untuk kembali ke alam. Sepeda bukan hanya untuk mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, yang pada akhirnya akan mengurangi kotornya udara dari polusi yang disebabkan oleh banyaknya kendaraan bermotor. Namun bersepeda juga salah satu cara untuk hidup sehat. Seperti saya tulis di awal, fisik yang sehat membuat jiwa juga sehat.

Tapi nggak semua orang mau menyisihkan uang untuk membeli sepeda. Maka konsep bike sharing adalah jalan keluarnya. Orang bisa tetap berperan mengurangi polusi udara, menjalani hidup sehat sekaligus berwisata keliling kota Bogor. Konsep yang keren ya kan. Didi Diarsa founder Kayuh Indonesia dan Maulidan Isbar co-founder Kayuh Indonesia adalah orang di belakang Kayuh Bike, brand sepeda yang mengusung konsep bike sharing. Ia punya misi menghadirkan konsep bike sharing yang ramah lingkungan dengan sepeda yang dibuat aesthetic. Bentuk kayunya itu lho.. khas banget. Berbentuk Kujang, ikon kota Bogor, karena Bogor merupakan pilot private dari project Kayuh Bike. Kayu diambil dari limbah kayu karet.. jadi bukan nebang pohon trus dibuat jadi sepeda. Di Indonesia masih banyak tangan-tangan ramah… alias rajin menjamah. Nggak boleh liat barang bagus pasti disabet paksa, dibawa pulang dan jadi milik pribadi atau jadi milik pribadi orang lain alias dijual. Makanya sistem IoT device digunakan di Kayuh Bike. Sistem IoT (Internet of Thing) yang softwarenya dikerjakan oleh DaycodeX, developer lokal, memungkinkan Kayuh Bike ditracking secara digital. Kalo misal ada yang mencuri, data-datanya terekam di IoT. Kasarnya.. sepeda ini satpamnya bentuk digital.

Sekilas Tentang Sistem KayuhBike Sharing

Sistem IoT ini juga berfungsi untuk mengidentifikasi pengguna. Pengguna tinggal mengunduh aplikasi IoT di playstore, isi data-data pribadi trus nanti dapet QR code. QR code ini di scan ke Kayuh Bike dan kunci sepeda akan terbuka. Sepeda bisa kita gunakan untuk jalan-jalan. Buat saya ini menarik, namun saya nggak bisa menulis informasi lebih jauh soal ini, karena Kayuh Bike dan aplikasinya baru akan dilaunching tanggal 16 Desember 2018 di Bogor. Sabar ye. Untuk pendanaan pembuatan Kayuh Bike, Kayuh Indonesia bekerja sama dengan MediaMove, partner yang mendukung di sisi pendanaan, pembiayaan operasional hingga perawatan di berbagai kota yang dituju Kayuh Bike. Jadi pemkot Bogor sama sekali nggak merogoh kocek untuk program Kayuh Bike. Barter value untuk MediaMove adalah pemkot Bogor cukup memberikan kompensasi atau hak kepada MediaMove untuk mengelola iklan baik pada infrastruktur bike sharing Kayuh Bike ataupun di lokasi lain. Menurut saya ini solusi yang smart sih, karena masyarakat dan pemerintah kota mendapat manfaat dari bike sharing namun program ini nggak membebani APBD. Yang ada malah bisa menghasilkan pendapatan baru untuk kota Bogor dari para wisatawan yang berbelanja dan masuk ke lokasi-lokasi wisata di sekitar Bogor sambil mengayuh Kayuh Bike.

Kenapa Bogor jadi lokasi project pertama Kayuh Bike? Karena Bogor mengusung konsep smart city yang punya tujuan mewujudkan Bogor sebagai kota yang friendly dan humanis yang mana konsep tersebut sejalan dengan Kayuh Bike. Go Green juga kental di Bogor yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar. Lagipula Kayuh Bike dibuat di Depok Jawa Barat dan merupakan karya anak bangsa. Limbah kayu karet yang menjadi pondasi Kayuh Bike dikerjakan secara hand made dan sedikit campur tangan mesin. Sepeda ini cukup kuat mengangkat beban 70 kg — 120 kg. Pilihan kayu jatuh pada limbah kayu karet karena kayu jenis ini cukup melimpah. Daripada hanya jadi sampah, mending dibikin sepeda yang jadi bermanfaat. So saya sih nggak sabar menunggu Kayuh Bike dilaunching 16 Desember 2018. Saat Kayuh Bike diperkenalkan di acara Republic Internet of Things (RioT) di Senayan City Sabtu 24 November lalu, respon pengunjung sangat bagus. Banyak yang antusias ingin mengenal sepeda ini, termasuk saya yang sering kepoin instagram Kayuh Bike. Jika banyak anak muda yang peduli pada lingkungan, udara kota yang bersih bukanlah angan-angan.